Article Publication Fee Policy
Jurnal Sinergi Inovasi dan Masyarakat (JSIM) memberlakukan Article Publication Fee (APC) IDR 150.000 mulai Edisi Oktober 2026 untuk artikel yang diterima, dengan tanpa biaya peer-review.

| Title | : | Jurnal Sinergi Inovasi dan Masyarakat |
| Initial | : | JSIM |
| e-ISSN | : | Process |
| DOI Prefix | : | process/jsim |
| Editor in Chief | : | Andika, S.E., M.M |
| Publisher | : | CV. Lentera Pendidikan Global |
| Frequency | : | Biannual (April & October) |
Jurnal Sinergi Inovasi dan Masyarakat (JSIM) is a scientific journal that publishes articles derived from Community Service (Pengabdian kepada Masyarakat) activities focusing on the synergy between innovation, the application of scientific knowledge, and the real needs of society. The journal aims to serve as a platform for disseminating community engagement practices that are solution-oriented, sustainable, and focused on enhancing community capacity.
JSIM accepts community service articles that emphasize the practical implementation of academic expertise, community empowerment based on local potential, strengthening of social institutions, and collaboration among academics, practitioners, and communities. The journal is multidisciplinary and open to various fields of study relevant to community development and empowerment.
Each published article undergoes a double-blind peer review process to ensure scientific quality, originality, and meaningful contribution to community development. JSIM is published biannually (April and October) and is committed to the principles of openness, publication ethics, and open access for readers.
Jurnal Sinergi Inovasi dan Masyarakat (JSIM) memberlakukan Article Publication Fee (APC) IDR 150.000 mulai Edisi Oktober 2026 untuk artikel yang diterima, dengan tanpa biaya peer-review.
JSIM mengundang dosen, peneliti, dan praktisi untuk mengirimkan artikel hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang berfokus pada sinergi inovasi, penerapan ilmu, dan pemberdayaan masyarakat.
Ketahanan pangan berbasis komunitas menjadi strategi penting dalam pemberdayaan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. Panti Asuhan Bina Siwi sebelumnya membudidayakan sawi secara konvensional dengan produktivitas rendah dan tanpa pengelolaan nutrisi terukur. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi sawi melalui penerapan sistem hidroponik organik (hidroganik) berbasis wick yang sederhana dan aplikatif. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui tahapan observasi, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi produktivitas. Sistem menggunakan pipa PVC (Polyvinyl Chloride) sebagai reservoir, media inert, serta sumbu kain flanel tanpa pompa listrik. Budidaya dilakukan selama satu siklus tanam dengan umur panen 35 hari setelah tanam. Hasil menunjukkan peningkatan produksi dari ±3 kg menjadi ±8 kg per siklus atau meningkat sekitar 166% dibandingkan dengan metode konvensional. Tanaman tumbuh seragam tanpa gejala defisiensi hara yang signifikan. Peningkatan hasil dipengaruhi oleh stabilitas nutrisi, pengaturan kepadatan tanam, dan kelembapan media yang terjaga melalui mekanisme kapilaritas. Selain meningkatkan produktivitas, kegiatan ini juga memperkuat keterampilan peserta dalam pengelolaan budidaya secara sistematis. Sistem hidroganik berbasis wick terbukti layak diterapkan pada lembaga sosial dengan sumber daya terbatas.
Panti Asuhan Bina Siwi mengembangkan budidaya sayuran sebagai bagian dari program kemandirian ekonomi, namun produk masih dipasarkan dalam bentuk curah tanpa kemasan dan identitas merek sehingga memiliki nilai tambah dan daya saing yang rendah. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan memperkuat hilirisasi usaha melalui pelatihan pengemasan dan pemasaran produk berbasis pemberdayaan partisipatif. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tahapan identifikasi kebutuhan, perancangan kemasan, pelatihan dan pendampingan teknis, implementasi produk bermerek, uji pasar melalui expo, serta monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan transformasi produk dari sayuran curah menjadi produk bermerek dengan kemasan standar dan label identitas yang konsisten, peningkatan harga jual dari Rp3.000 per ikat menjadi Rp5.000–Rp10.000 per kemasan, serta terjualnya 20 paket produk dalam satu hari expo sebagai bentuk validasi pasar. Kegiatan ini juga meningkatkan keterampilan peserta dalam pengemasan dan strategi pemasaran serta mulai memperkuat kapasitas manajerial melalui penerapan penetapan harga berbasis biaya dan pencatatan penjualan sederhana, sehingga mendorong pergeseran orientasi usaha dari berbasis produksi menuju usaha sosial yang lebih berorientasi pasar. Secara jangka panjang, model hilirisasi melalui pengemasan dan branding ini berpotensi menjadi unit usaha berkelanjutan yang memperkuat stabilitas ekonomi lembaga dan kemandirian pangan sosial.
Keterbatasan sarana dan prasarana serta rendahnya kapasitas pengelolaan usaha menjadi kendala utama yang dihadapi UMKM angkringan di Kelurahan Kricak, Kecamatan Tegalrejo. Kondisi ini berdampak pada rendahnya daya tarik usaha dan terbatasnya peningkatan pendapatan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menerapkan model intervensi terintegrasi melalui perbaikan sarana dan prasarana serta pendampingan pengelolaan usaha guna meningkatkan kualitas layanan dan kapasitas pelaku usaha. Metode yang digunakan adalah pendekatan pemberdayaan partisipatif melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan intervensi, pelaksanaan perbaikan fasilitas, pendampingan langsung, serta evaluasi kualitatif. Intervensi fisik meliputi penggantian terpal, peningkatan pencahayaan, dan pengadaan perlengkapan pendukung usaha, sedangkan pendampingan dilakukan melalui dialog dan praktik penataan usaha yang lebih tertata dan bersih. Hasil menunjukkan adanya peningkatan kualitas fisik tempat usaha, kenyamanan konsumen, serta tumbuhnya kesadaran dan motivasi pelaku usaha dalam mengelola usaha secara lebih sistematis. Meskipun belum diukur secara kuantitatif terhadap peningkatan omzet, perubahan kondisi usaha dan respons positif mitra menunjukkan penguatan kapasitas internal pelaku UMKM. Perbaikan kualitas layanan dan penataan usaha tersebut berpotensi meningkatkan daya saing dan peluang peningkatan pendapatan secara bertahap di tingkat lokal. Model intervensi terintegrasi ini terbukti aplikatif dan relevan untuk pemberdayaan UMKM mikro berbasis komunitas dengan sumber daya terbatas.
Transformasi pemasaran agribisnis menuntut kelompok tani untuk mengintegrasikan strategi digital dan diferensiasi produk melalui pengemasan. Namun, banyak kelompok tani skala kecil masih berfokus pada produksi dan belum mengelola pemasaran secara strategis. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat kapasitas pemasaran Kelompok Tani Sekar Arum melalui penyuluhan strategi pemasaran dan praktik inovasi pengemasan produk. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui tahapan survei dan wawancara, penyuluhan, praktik pengemasan, serta evaluasi reflektif. Kegiatan dilaksanakan pada 8 Desember 2024 di Kota Yogyakarta. Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi, pemasaran masih dilakukan secara konvensional tanpa identitas kemasan dan tanpa pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Setelah kegiatan, anggota kelompok menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai pentingnya diferensiasi produk dan komunikasi nilai kepada konsumen. Praktik pengemasan dengan penambahan label identitas kelompok menjadi langkah awal dalam membangun positioning produk yang lebih jelas di pasar. Melalui diferensiasi tersebut, produk memiliki peluang untuk memperoleh nilai tambah yang lebih tinggi dan membuka ruang penetapan harga jual yang lebih kompetitif dibandingkan dengan penjualan dalam bentuk curah. Meskipun optimalisasi media sosial masih berada pada tahap awal, intervensi ini telah mendorong pergeseran orientasi kelompok dari production-oriented menuju market-oriented agribusiness. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas melalui penyuluhan dan praktik aplikatif dapat menjadi fondasi strategis dalam meningkatkan daya saing produk sayuran organik secara berkelanjutan.
Pengabdian ini bertujuan memberdayakan UMKM di Padukuhan Nglambur, Sidoharjo, melalui hilirisasi potensi umbi kimpul yang belum optimal. Program ini mengintervensi keterbatasan keterampilan pemasaran kelompok "Yo Tumbas" agar mampu merambah pasar nasional. Metode yang digunakan adalah pelatihan sistematis bagi 30 peserta, mencakup workshop marketplace (Shopee), teknik live streaming, dan optimalisasi visual produk. Hasilnya, peserta berhasil menguasai pengelolaan toko daring dan promosi interaktif yang efektif meningkatkan kepercayaan konsumen. Inisiatif ini melahirkan strategi pemasaran hibrida yang menggabungkan kemitraan lokal (Si Bakul dan TOMIRA) dengan platform digital nasional. Dampak ekonomi nyata tercermin dari stabilitas volume penjualan yang mencapai 300 unit per bulan dengan keuntungan bersih sebesar Rp 800.000. Kesimpulannya, integrasi teknologi pemasaran modern menjadi kunci utama bagi produk lokal untuk tetap kompetitif, adaptif, dan berkelanjutan di era ekonomi digital.
